Rabu, 08 Juli 2009

Tentang terumbu Karang...

Hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang merupakan tiga ekosistem penting di daerah pesisir perairan tropika. Hutan bakau dan padang lamun berperan penting dalam melindungi pantai dari arus dan hempasan ombak, selain itu juga berperan penting sebagai tempat memijah, membesar dan mencari makan dari berbagai biota, termasuk yang menghuni ekosistem terumbu karang. Diketahui bahwa ekosistem terumbu karang dihuni oleh lebih dari 93.000 spesies, bahkan diperkirakan lebih dari satu juta spesies mendiami ekosistem ini. Ekosistem terumbu karang yang sangat kaya akan plasma nutfah ini, kendati tampak sangat kokoh dan kuat, namun ternyata sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Ekosistem terumbu karang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan laut seperti tingkat kejernihan air, arus, salinitas dan suhu. Tingkat kejernihan air dipengaruhi oleh partikel tersuspensi antara lain akibat dari pelumpuran dan ini akan berpengaruh terhadap jumlah cahaya yang masuk ke dalam laut, sementara cahaya sangat diperlukan oleh zooxanthella yang fotosintetik dan hidup di dalam jaringan tubuh binatang pembentuk terumbu karang.

Arus membawa oksigen yang dibutuhkan hewan-hewan terumbu karang. Kekuatan arus mempengaruhijumlah makanan yang terbawa dengan demikian mempengaruhi juga kecepatan pertumbuhan binatang karang. Suhu laut optimum bagi kehidupan terumbu karang adalah antara 26ο-28οC, kenaikan atau penurunan suhu dalam waktu yang relatif lama dapat mengakibatkan kematian hewan karang.

MENGENAL BINATANG KARANG
Binatang karang, atau beberapa biota lainnya yang hidup di dalam ekosistem terumbu, karang mampu mem-bentuk zat yang keras dari zat kapur yang di sebut sebagai karang. Binatang karang adalah pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Binatang karang berukuran sangat kecil, disebut polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang lunak). Proses pembentukan sebuah koloni memakan waktu yang sangat lama, dan unutk bisa membentuk suatu ekosistem terumbu karang akan memakan waktu sampai ribuan tahun. Walaupun terlihat sangat kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh dan mudah hancur.

FUNGSI DAN NILAI TERUMBU KARANG
Ekosistem terumbu karang merupakan gudang persediaan makanan dan bahan obat-obatan bagi manusia di masa kini maupun di masa mendatang. Selain itu keindahannya juga menjadi daya tarik yang bisa menjadi sumber devisa bagi negara melalui kegiatan pariwisata. Wisata bahari Indonesia tengah berkembang pesat dan ekosistem terumbu karang merupakan salah aset utamanya.

Ekosistem terumbu karang adalah tempat tinggal bagi ribuan binatang dan tumbuhan yang banyak diantaranya memiliki nilai ekonomi tinggi. Berbagai jenis binatang mencari makan dan berlindung di ekosistem ini. Berjuta penduduk Indonesia bergantung sepenuhnya pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber pencaharian. Jumlah produksi ikan, kerang dan kepiting dari ekosistem terumbu karang secara lestari di seluruh dunia dapat mencapai 9 juta ton atau sedikitnya 12% dari jumlah tangkapan perikanan dunia. Sumber perikanan yang ditopang oleh ekosistem terumbu karang memiliki arti penting bagi masyarakat setempat yang pada umumnya masih memakai alat tangkap tradisional.

Selain nilai ekonominya, ekosistem terumbu karang juga merupakan laboratorium alam yang sangat unik untuk berbagai kegiatan penelitian yang dapat mengungkapkan penemuan yang berguna bagi kehidupan manusia. Beberapa jenis spongs, misalnya, merupakan binatang yang antara lain terdapat di ekosistem terumbu karang yang berpotensi mengandung bahan bioakif yang dapat dijadikan bahan obat-obatan antara lain untuk penyembuhan penyakit kanker. Selain itu binatang karang tertentu yang mengandung kalsium karbonat telah dipergunakan untuk pengobatan tulang rapuh. Fungsi lain dari ekosistem terumbu karang yang hidup di dekat pantai ialah memberikan perlindungan bagi berbagai properti yang ada di kawasan pesisir dari ancaman pengikisan oleh ombak dan arus.

KENALI DAN CINTAI EKOSISTEM TERUMBU KARANG KITA
Apa yang disediakan oleh ekosistem terumbu karang bagi kepentingan manusia?

*
sumber makanan dengan protein tinggi,
*
sumber bahan obat-obatan,
*
sumber bahan bangunan,
*
sumber penghasilan: berupa hasil tangkapan seperti ikan, udang dan agar-agar; usaha pariwisata seperti menyelam dan memancing,
*
melindungi pantai dari hempasan ombak dan arus.

Apa yang telah dilakukan manusia terhadap ekosistem terumbu karang?

*
menggunakan alat-alat tangkapan yang merusak seperti bom, dan potas sehingga terjadi:
o
tangkapan yang berlebihan,
o
terumbu karang hancur dan mati,
o
ikan-ikan kecil yang tidak menjadi sasaran tangkapan ikut mati, menjadi terbuang sia-sia.
*
membangun terlalu dekat dengan garis pantai, dan menguruk pantai menjadi lahan untuk pembangunan sehingga terjadi pelumpuran,
*
mencari terumbu karang dengan sampah, tumpahan minyak, buangan industri dan sisa-sisa pestisida dan insektisida untuk pertanian,
*
melempar jangkar dan berjalan-jalan di atas terumbu karang,
*
penebangan hutan dan pohon-pohon di sepanjang aliran sungai yang menyebabkan pelumpuran,
*
pengambilan karang berlebihan untuk diperdagangkan,
*
penambangan karang berlebihan untuk pembuatan kapur, bahan bangunan dan fondasi jalan.

Setelah mengenali, maka cintai dan periharalah terumbu karang kita, karena terumbu karang adalah:

*
terbentuk melalui suatu proses kehidupan yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk tumbuh berkembang sehingga menjadi seperti kondisi yang terlihat sekarang ini,
*
tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita,
*
Indonesia memiliki ekosistem terumbu karang terluas di dunia (75.000 km2), tetapi hanya tinggal sedikit saja (6,20%) dalam kondisi yang masih sangat bagus,
*
sumber daya laut yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat tinggi (untuk perikanan, pariwisata dan perlindungan daerah pesisir), aabila dalam kondisi yang sangat baik,
*
labotorium alam yang sangat menunjang pendidikan dan penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan,
*
potensi di masa depan untuk sumber lapangan kerja masyarakat luas.

TERUMBU KARANG INDONESIA
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau besar dan kecil, dengan panjang garis pantai mencapai hampir 81.000 km yang dilindungi oleh ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun dan ekosistem mangrove. Indonesia merupakan salah satu Negara terpenting di dunia sebagai penyimpan keanekaeagaman hayati laut tertinggi. Di Indonesia terdapat 2,500 spesies of molluska, 2,000 spesies krustasea, 6 spesies penyu laut, 30 mamalia laut, dan lebih dari 2,500 spesies ikan laut. Luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 75.000 km2 yaitu sekitar 12 sampai 15 persen dari luas terumbu karang dunia. Dengan ditemukannya 362 spesies scleractinia (karang batu) yang termasuk dalam 76 genera, Indonesia merupakan episenter dari sebaran karang batu dunia. Ekosistem pesisir (padang lamun, mangrove dan terumbu karang) memainkan peranan penting dalam industri wisata bahari, selain memberikan pelindungan pada kawasan pesisir dari hempasan ombak dan gerusan arus. Selain itu ekossistem pesisir ini merupakan tempat bertelur, membesar dan mencari makan dari beaneka ragam biota laut yang kesemuanya merupakan sumber produksi penting bagi masyarakat pesisir.

Di samping peranannya yang penting, ekosistem terumbu karang Indonesia dipercaya sedang mengalami tekanan berat dari kegiatan penangkapan ikan dengan mempergunakan racun dan bahan peledak. Selain itu penangkapan berlebihan sedimentasi dan pencemaran juga merupakan ancaman yang tak kalah beratnya. Belakangan ini diperkirakan hamper 25 persen dari kehidupan di ekosistem terumbu karang telah mati, antara lain akibat dari peningkatan suhu mencapai sebesar 4ο C. Pada tahun 1994 LIPI mengadakan survei pada 371 buah station transek nasional dengan menggunakan prosedur standar pemantauan internasional. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang Indonesia telah mengalami kerusakan yang sangat serius

Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang mengandung sumber daya alam yang dapat memberi manfaat besar bagi manusia. Dari itu diperlukan kearifan manusia untuk mengelolanya, yang bisa menjadikan sumber daya alam ini menjamin kesejahteraan manusia sepanjang zaman. Tanpa menghiraukan masa depan dan terus-menerus merusak, ekosistem terumbu karang akan menjadi semacam padang gurun tandus di dalam laut yang hanya dipenuhi oleh patahan-patahan karang dan benda mati lainnya. Karena itu pengelolaan sangat diperlukan untuk mengatur aktivitas manusia serta mengurangi dan memantau cara-cara pemanfaatan yang merusak. Pengelolaan terumbu karang harus berbasis pada keterlibatan masyarakat, sebagai pengguna langsung sumber daya laut ini. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya terumbu karang sangat penting mulai dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan sampai pada tahap evaluasi dari suatu cara pengeloaan. Indonesia yang terletak di sepanjang katulistiwa, mempunyai terumbu karang terluas di dunia tersebar mulai dari Aceh sampai Irian Jaya. Dengan jumlah penduduk 200 juta jiwa, yang 60 persennya tinggal di daerah pesisir, maka terumbu karang merupakan tumpuan sumber penghudupan utama.

Di samping sebagai sumber perikanan, terumbu karang memberikan penghasilan antara lain industri ikan hias sampai pada tingkat nelayan pengumpul. Terumbu juga merupakan sumber devisa bagi negara, termasuk usaha pariwisata yang dikelolah oleh masyarakat nelayan.

Sayangnya terumbu karang di Indonesia semakin memburuk kondisinya, yang secara langsung dapat dibuktikan dari hasil tangkapan ikan oleh nelayan yang semakin menurun. Selain jumlah hasil tangkapan ikan semakin menurun, juga ukuran ikannya semakin kecil disamping itu nelayan memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencari ikan. Peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan di daerah pesisir yang semakin meluas, menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap ekosistem terumbu karang.

Apa masalah dasar yang dihadapi ekosistem terumbu karang Indonesia ?

*
kurangnya kesadaran akan nilai penting sumber daya ekosistem terumbu karang baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya,
*
hampir tidak ada pengelolaan sumber daya ekosistem terumbu karang,
*
walaupun telah ada peraturan perundang-undangan yang menyangkut pemanfaatan dan pelestarian sumber daya ekosistem terumbu karang, penegakan hukum yang terjadi masih sangat lemah,
*
pembangunan industri yang tidak tekendali di kawasan pesisir yang memberikan dampak sangat negative terhadap kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang,
*
kemiskinan masyarakat hidup di kawasan pesisir menyebabkan tidak ada pilihan lain selain terus-menerus memanfaatkan sumber daya yang ada,
*
kurangnya keinginan politis untuk menanggulangi masalah.


TERUMBU KARANG DUNIA
Telah sering disebut bahwa ekosistem terumbu karang memiliki arti yang amat penting bagi kehidupan manusia, baik dari segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan rekreasi karena keindahannya. Terumbu karang tersebar di seluruh dunia dan mencakup lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia, dengan luas diperkirakan mencapai 600.000 km2. Mulai dekade 1990-an, para ahli mulai mengangkat isu tentang semakin memburuknya kondisi terumbu karang dunia, antara lain Indonesia. Saat ini diperkirakan 10 persen dari terumbu karang dunia dalam kondisi sangat rusak dan bahkan kemungkinan tidak dapat dipulihkan kembali. Dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, apabila tidak ada upaya pelestarian yang intensif, maka diperkirakan 30 persen dari terumbu karang yang ada akan mengalami nasib yang sama.

Kegiatan manusia merupakan penyebab terbesar menurunnya kondisi ekosistem terumbu karang dunia. Semakin cepat pertumbuhan penduduk dunia, semakin padat pula pemukiman di daerah pesisir, maka semakin terancam pula keberadaan ekosistem terumbu karang beserta sumber daya laut lainnya.

Ekploitasi sumber daya ekosistem terumbu karang di berbagai negara telah diperburuk oleh banyaknya sumber daya yang terbuang sia-sia karena cara penangkapan ikan secara merusak.

Pencemaran dan pesatnya pembangunan di daerah pesisir dan laut semakin mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang. Selain itu, bencana alam selain badai, gempa bumi dan efek dari El Niño telah mengakibatkan rusak parahnya ekosistem terumbu karang di berbagai Negara dengan ditandai oleh matinya berbagai jenis karang batu.

Berbagai upaya, baik rencana jangka pendek maupun jangka panjang, telah dirancang oleh para ahli serta dilaksanakan untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang. Pemerintah Indonesiapun telah mengambil langkah-langkah penting dalam upaya penyelamatan ekosistem terumbu karang antara lain melalui program COREMAP.

Terumbu Karang Akan Punah pada Akhir Abad Ini

Banyak ahli margasatwa memperingatkan terumbu karang di dunia mungkin akan punah paling lambat pada akhir abad ini jika jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfir tidak dikurangi.

Dalam pertemuan di London, Senin, para ahli terkemuka margasatwa menyatakan bahwa langkah buangan gas yang diramalkan berarti tingkat 450 bagian per juta CO2 di atmosfir akan dicapai paling lambat pada 2050.

Buangan itu akan mengarah kepada peningkatan keasaman kondisi samudra dan pemanasan temperatur air, yang akan mematikan terumbu karang dalam beberapa dasawarsa selanjutnya.

"Dapur mulai terbakar dan api itu kian menyebar ke seluruh bangunan," kata Alex Rogers dari Zoological Society of London dan International Program on the State of the Ocean.

"Jika kita bertindak cepat dan secara meyakinkan kita mungkin akan dapat memadamkannya sebelum kerusakan jadi tak dapat diubah," katanya.

Terumbu karang adalah tempat berteduh dan perawatan penting bagi ikan dan makhluk hidup lain di dalam laut.

Terumbu karang juga melindungi garis pantai, menyediakan sumber penting makanan bagi jutaan orang, menarik wisatawan dan menjadi tempat penyimpanan obat yang potensial bagi penyakit kanker dan penyakit lain.

Yang terbesar adalah Great Barrier Reef, kumpulan 2.900 terumbu karang di sepanjang 2.100 kilometer pantai timur-laut Australia di taman laut dengan ukuran seluas negara Jerman.
(*http://www.antarane ws.com/view/ ?i=1246974736& c=WBM&s=PEM)
Go Blue Trendsetters,


Para ahli margasatwa yang baru-baru ini menggelar pertemuan di London memperingatkan bahwa jika karbon dioksida (CO2) di atmosfir tidak dikurangi, maka terumbu karang di dunia mungkin akan punah paling lambat pada akhir abad ini. Buangan gas itu mengakibatkan peningkatan keasaman kondisi samudra dan pemanasan temperatur air, yang akan mematikan terumbu karang dalam beberapa dasawarsa selanjutnya.



Di Bali, hasil survey cepat dengan metode twim swim yang dilakukan Reef Check pada awal Juni menunjukkan bahwa terumbu karang di Bali sisi utara telah mengalami pemutihan antara 25-35 persen. Pemutihan kemungkinan disebabkan kenaikan suhu permukaan air yang diketahui terjadi sejak awal Mei 2009.



Jika prediksi para ahli itu benar, maka peristiwa pemutihan ini akan menjadi peringatan atas ancaman besar tersebut ke depan ini. Kita harus menempatkan kepedulian yang tinggi terhadap isu tersebut. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan. Hal pertama yang perlu dilakukan di tingkat lokal adalah dengan menjaga terumbu karang sebaik-baiknya dengan mengurangi tekanan-tekanan yang lain. Terumbu karang yang mengalami tekanan yang rendah, akan mempunyai energi lebih dalam menghadapi pemutihan karang. Peran serta masyarakat luas sangat diperlukan di sini. Mulai dari pengaturan pengelolaan perikanan, sampai keterlibatan dunia pariwisata dalam menjaga kawasan terumbu karang.

Let’s go blue!

Senin, 06 Juli 2009

Coral Reef Management Symposium

Dear All,
We would like to announce that there will be a Coral Reef Management Symposium that will be held on 13-14 October 2009 in Jakarta. For further information, please visit our website :http:www.coremap2. com/content/ view/48/1/
Thank you.
...
milyaran MANUSIA bergantung pada BUMI
BUMI ... satu untuk semua
...
dijadikan BUMI untuk tempat menetap
...
adanya gunung-gunung (dipermukaan) BUMI agar BUMI tidak mengguncangkan
...
dan
...
apabila BUMI digoncangkan dengan goncangan yang sedasyat-dasyatnya
serta BUMI itu mengeluarkan isinya !
dan berkatalah MANUSIA (dengan perasaan gerun) apa yang sudah terjadi kepada BUMI ?
pada hari itu BUMI pun menceritakan kabar beritanya
...
let's save our earth
...
mari ...
BERSATU BERBUAT UNTUK BUMI

EROSI PANTAI MENGANCAM TERUMBU KARANG DI GILI MATRA

Erosi pasir pantai yang semakin meningkat telah mengubur
sisa-sisa karang yang hidup di Taman Wisata Laut (TWL)
Gili Matra, hingga kedalaman 15 meter. Kawasan konservasi
yang terdiri atas Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan
tersebut merupakan tujuan wisata paling popular di
Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyajikan wisata
snorkeling dan pemandangan bawah air melalui
glass-bottom- boat. Lokasi-lokasi snorkeling yang dulu
banyak dihuni oleh aneka warna biota karang, karang lunak,
dan biota lainnya; sekarang sudah hampir tidak ada lagi.
Lokasi-lokasi tersebut sekarang banyak yang hanya
menyajikan pemandangan padang pasir bawah air akibat
timbunan pasir putih dari erosi pantai.
Penimbunan dasar terumbu oleh erosi pantai yang disebabkan
gelombang merupakan fenomena yang baru. Ketika peristiwa
ini dilaporkan oleh Ketua P3L, Imam Bachtiar, dalam
“coral-list” (sebuah milis peneliti terumbu karang
internasional) , banyak peneliti internasional yang
menanggapinya dengan keingintahuan dan keheranan.
Penyebab utama erosi pantai tersebut diduga adalah
hilangnya fungsi pemecah gelombang akibat rusaknya terumbu
karang karena penangkapan ikan, pembuangan jangkar, dan
pemutihan karang. Perubahan iklim global yang mungkin
merubah kecepatan angin dan arus local memprburuk erosi
pantai, walaupun spekulasi ini masih harus dibuktikan
lebih lanjut.
Erosi pantai yang menimbun karang di rataan terumbu,
sebenarnya telah diamati oleh Imam Bachtiar sejak tahun
1987 di pantai tenggara Gili Air. Pada tahun 1995,
penimbunan yang sama diamati di Gili Trawangan di utara
pelabuhan, atau sebelah selatan lokasi snorkelling. Lokasi
penimbunan tersebut meluas kearah selatan, sehingga rataan
terumbu dan tubir di tenggara Gili Trawangan mulai
tertimbun pasir pantai pada tahun 2000. Tahun 2005,
seluruh pantai di bagian tenggara Gili Trawangan telah
tertimbun pasir. Lokasi wisata snorkeling di Gili
Trawangan yang paling banyak dikunjungi wisatawan mulai
tertimbun pasir pada tahun 2005. Pada tahun 2009, 90%
lokasi tempat snorkeling dan sun-bathing ini telah
tertimbun pasir.
Kejadian penimbunan karang oleh pasir pantai dikhawatirkan
akan mengurangi potensi wisata bahari di TWAL Gili Matra.
Buruknya pengendalian tata-ruang yang ada juga menambah
nilai negative Gili Matra di masa mendatang. Ketua P3L
telah melaporkan ancaman erosi terhadap terumbu karang
tersebut ke Dinas Kelautan dan Perikanan pada tanggal 8
dan 11 juni 2009. Pada saat ini, P3L sedang mencari cara
terbaik untuk direkomendasikan kepada Diskanlut sebagai
solusi dari erosi pantai tersebut.

Enam Bulan bagi Perusak Terumbu Karang

PADANG, KOMPAS.com - Oknum masyarakat yang terbukti melakukan kegiatan merusak terumbu karang di perairan laut Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diancam hukuman pidana enam bulan penjara.

“Selain itu dikenai denda maksimal Rp 50 juta,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar Yosmeri di Padang, Jumat (3/7).

Ia menjelaskan, ancaman pidana penjara dan denda itu menjadi bagian penting dalam rancangan peraturan daerah (Ranperda) Sumbar tentang pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang.

Ranperda tersebut saat ini dalam pembahasan antara pemerintah daerah dan DPRD Sumbar dan ditargetkan disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) pada akhir Juli 2009.

Ancaman hukuman itu akan menjadi bagian BAB atau pasal dalam Ranperda itu dan setelah disahkan bisa menjadi landasan hukum untuk menindak tegas oknum masyarakat yang merusak terumbu karang.

“Harapkan dengan adanya landasan hukum di tingkat daerah ini, akan mengurangi tindakan-tindakan eksploitasi batu karang oleh oknum masyarakat,” katanya.

Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan, pengajuan Ranperda pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang ini membuat landasan hukum mengatur pengelolaan dan melindungi terumbu karang dalam wilayah laut seluas 186.580 kilometer persegi di Sumbar.

“Perlunya landasan hukum itu karena terumbu karang merupakan satu kekayaan sebagai sumber daya alam hayati yang dapat dimanfaatkan baik langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Selain itu, terumbu karang terutama yang berada di bagian tepi laut dan penghalang juga berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan obak dan arus kuat dari laut, tambahnya.

Terumbu karang juga berperan utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat asuh dan pembesaran serta tempat pemijahan bagai berbagai biota laut.

Akan tetapi, menurut dia, kualitas ekosistem terumbu karang Sumbar terus menurun akibat terus-menerus mendapat tekanan dari aktivitas manusia.

Ia menjelaskan, aktivitas itu seperti penambangan batu karang untuk bahan bangunan dan penangkapan ikan dengan bahan peledak atau racun yang tidak saja mematikan karang tapi jauh dari itu memusnahkan plasma nutfah sekitarnya.

Dampak dari rusaknya ekosistem terumbu karang telah mulai dirasakan termasuk oleh masyarakat nelayan di mana ikan hasil tangkap mereka terus berkurang jumlah, kata gubernur.

Untuk mengatasi masalah itu, maka Pemda dan DPRD Sumbar akan mengesahkan rancangan peraturan daerah (Perda) untuk mengatur pengelolaan dan melindungi ekosistem terumbu karang, tambahnya.

Perda itu nantinya secara umum juga untuk menjaga laut Sumbar yang memiliki luas mencapai 186.580 kilometer persegi yang terdiri dari zona teritorial (57.880 km2) dan zona ekonomi eksklusif (128.700 km2) dengan garis pantai sepanjang 2.420,39 kilometer, demikian Gamawan Fauzi.
BNJ